Jumat, 08 Mei 2015

Tugas softskill bahasa inggris bisnis 2 Interview Conversation


Interview Conversation

Sinta     : Excuse me, Sir. May I come in
Alfon    : Yes. Please, come in and have a seat.

Sinta     : Thank you, Sir.
Alfon    : So, your name is Sinta, right?

Sinta     : Yes, that is right, Sir.
Alfon    : Very well, my name is Alfon. I am the head of the human resource department of this
                hotel company.
Sinta     : Nice to meet you, Sir.

Alfon    : How are you this morning, Sinta?
Sinta     : I’m perfectly fine, Sir. Thank you, and how about you?

Alfon    : I’m fine too. Thank you. So, do you know what we are going to do, Sinta?
Sinta     : Yes, Sir. I was emailed and called by phone in order to have a job interview session
   from this company three days ago. So, now here I’m going to be having an interview  
   job session with you.

Alfon    : Very well. Can you tell me about your self, Sinta?
Sinta     : My name is Sinta Rahmawati. I’m 23 years old. I graduated from one of State
Universities in Bandung. I took hotel-management as my major. I love travelling and   singing. Travelling and singing both improve my health mentally and physically.

Alfon    : You applied to be our Junior Hotel Manager. Do you have any experience of this job?
Sinta     : No, Sir. I am a fresh graduate. This is my first time to apply a full time job.

Alfon    : What makes you decide to apply for Junior Hotel Manager position?
Sinta     : I think Junior Hotel Manager is an appropriate job position for me. I find it attractive   
and interesting as well. Due to the hotel-management major I took, I’m sure that my skills and talents will be conducive to this company’s success. I can also see a bright future of my career by joining this company.

Alfon    : Very well. So, what is your strength and weakness point?
Sinta     : My strength is my cheerfulness, my carefulness, my strong will to learn new things,
   and my skill to work under pressures and as a team. My weakness is my phobia of dark.

Alfon  : Well, it was a great time to have a little talk with you, Sinta. We will announce the result
  of your interview in a week. Thank you for coming here.
Sinta   : Yes. Thank you, Sir.

Tugas softskill makalah bahasa inggris bisnis2









NAMA        :       ROMIAN
                           KELAS        :         4EA27                                                      
                           NPM            :       16211440



MAKALAH SOFTSKILL
BAHASA INGGRIS BISNIS 2




KATA PENGANTAR


Salam Sejahtera,
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat limpahan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah softskill ekonomi koperasi ini sebagai tugas untuk melengkapi nilai. Dan tidak lupa saya ucapan terima kasih kepada para narasumber informasi yang saya dapatkan dari internet. Serta saya haturkan terima kasih kepada Bpk. Nurhadi selaku dosen pembimbing kami.
Dalam penyusunan tugas softskill dengan kerja keras dan juga bantuan dari berbagai pihak, saya berusaha untuk memberikan hasil yang maksimal dalam menggali informasi. Walaupun di dalam pembuatannya saya menghadapi kesulitan dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang saya miliki. Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran membangun sangat saya butuhkan untuk dapat menyempurnakannya di masa mendatang.
Adapun tujuan dari penyusunan tugas softskill ini adalah untuk lebih mengetahui tentang pembahasan “ Bahasa Bisnis 2 “dengan harapan dapat memberikan manfaat serta menambah ilmu pengetahuan dan semangat bagi Mahasiswa dan juga para pembaca untuk dapat berupaya mengembangkan koperasi untuk dapat meningkatkan perekonomian.

Bekasi, 10 Apri 2015


                                                                                                          Penyusun

Makhluk apakah bahasa inggris itu?
Bahasa Inggris adalah bahasa yang berasal dari Inggris raya. Bahasa inggris merupakan kombinasi dari beberapa bahasa lokal yang sering dipakai oleh masyarakat Norwegia, Denmark, dan Anglo-Saxon pada abad ke-6 sampai abad ke-10 dulu. Hingga ditaklukkan Inggris oleh William the Conqueror pada tahun 1066, bahasa Inggris pun mulai sangat intensif mempengaruhi bahasa Latin juga bahasa Perancis. Dari seluruhan kosakata bahasa inggris modern, diperkirakan ±50% berasal dari bahasa Perancis dan Latin.
Saat ini, bahasa Inggris telah menjadi media komunikasi utama bagi masyarakat di berbagai negara di dunia, seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, New Zealand, Afrika Selatan, serta masih banyak lagi negara yang mejadikan bahasa inggris sebagai media komunikasi utama negara mereka.
Sebagai bahasa yang paling banyak dipakai di berbagai negara di dunia, bahasa inggris sudah dianggap sebagai bahasa resmi untuk dipakai di dunia internasonal. Bahasa yang juga hampir sama populernya seperti bahasa inggris adalah bahasa mandarin.
Bahasa Inggris termasuk rumpun bahasa-bahasa Anglo-Frisia pada cabang barat bahasa-bahasa Jerman, dan merupakan sebuah bahasa subfamili dari bahasa-bahsa Indo-Eropa.Bahasa Inggris hampir mendekati bahasa Frisia, sedikit lebih luas dari bahasa Netherlandic (Belanda –Flemish) dan dialek Jerman tingkat rendah (Plattdeutsch), serta jauh dari bahasa Jerman Modern tingkat tinggi.

Sejarah dan Perkembangan
Perkembangan bahasa Inggris dibagi menjadi tiga masa, yaitu:
·         Bahasa Inggris Kuno atau bahasa Anglo-Saxon, 700 – 1066
·         Bahasa Inggris Tengahan, antara 1066 – 1500
·         Bahasa Inggris Baru, mulai dari abad ke 16T iga periode utama secara umum dikenali dalam sejarah perkembangan bahasa Inggris. Bahasa Inggris Tua (Old English), diketahui terbentuk sebagai Anglo-Saxon, tertanggali mulai Th 449 M hingga Th 1066 atau Th 1100 M. Bahasa Inggris Pertengahan (Middle English) ditenggarai mulai Th 1066 atau Th 1100 hingga Th 1450 atau Th 1500. Bahasa Inggris Modern (Modern English) ditanggali dari sekitar Th 1450 atau Th 1500 dan disub-bagikan ke dalam Bahasa Inggris Modern Awal (Early Modern English), dari sekitar Th 1500 hingga Th 1660, dan bahasa Inggris Akhir (Late Modern English), dari sekitar Th 1660 hingga saat sekarang ini.
Bahasa Masa Depan
Saat ini, penggunaan bahasa inggris bukan digunakan sebagai penghubung bahasa komunikasi antar negara saja, tapi juga sudah mulai merambah ke berbagai bidang lain, contohnya media massa. Pada jaman yang telah modern ini, telah banyak media massa yang menggunakan bahasa inggris dalam mempublikasikan berita serta hal-hal unik lainnya. Untuk itulah sebagai bangsa yang ingin maju, kita juga harus sanggup berbicara dalam bahasa inggris agar jika suatu hari diperlukan, kita akan dengan mudah mengerti apa yang ingin disampaikan dunia.












Tema : Penulisan Laporan dan Proposal Bisnis dalam Konsep

Penulisan Laporan dan Proposal dalam perusahaan atau lembaga bisnis memiliki konsep atau pengertian yang beragam tergantung persepsi dan pemahaman setiap pakar bisnis menyorotinya. Untuk memudahkan pemahaman tentang hal ini maka dalam penulisan makalah ini perlu pembatasan pengertian atau konsep yang menjadi titik awal pembahasan lebih lanjut.

Laporan Bisnis
Konsep atau pengertian tentang Laporan Bisnis tidak pernah seragam dan tuntas bahkan menimbulkan diskusi yang penjang. Setiap pakar atau ahli memberikan defenisi masing-masing sesuai kemampuan ataupun keahlian yang dimiliki. Walau pun demikian, beragamnya defenisi ini semkain menambah kekayaan khasanah intelektual dalam bisnis atu perusahaan.        
Herta A. Murphy dan Herbert W. Hildebrandt dalam buku mereka, “Effective Business Communications” seperti dikutif Djoko Purwanto (2003: 203) memberikan defenisi laporan bisnis (business reports) sebagai suatu laporan yang memiliki sifat netral, tidak memihak, memiliki tujuan yang jelas dan rencana penyajian fakta kepada seorang atau lebih untuk tujuan bisnis tertentu. Sedangkan menurut Himstreet dan Baty dalam buku mereka, “Business Communications”  juga dikutif Djoko Purwanto (2003:203) mendefinisikan laporan bisnis sebagai suatu pesan-pesan yang objektif, tersusun teratur yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari satu bagian organisasional atau dari suatu institusi/lembaga ke lembaga yang lain untuk membantu pengambilan keputusan atau pemecahan masalah. FX Soedjadi mendefenisikan laporan bisnis sebagai suatu bentuk penyampaian berita, keterangan, pemberitahuan ataupun pertanggungjawaban dari bawahan kepada atasan sesuai dengan hubungan wewenang dan tanggungjawab yang dimiliki.
            Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa suatu laporan bisnis mempunyai berbagai karakteristik seperti netral, objektif, penyampaian informasi baik intern maupun ekstern, biasanya diminta oleh mereka yang memiliki kewenangan yang lebih tinggi dan memiliki suatu tujuan tertentu yaitu membantu pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.



Proposal Bisnis
Berdasarkan makna etimologis, kata proposal berasal dari  bahasa inggris “propose” yang berarti mengusulkan, mengemukakan, atau menawarkan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), proposal berarti rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja (Ninis Sofi, http://sophysofisme.blogspot.com/2013/07/makalah-tentang-proposal.html diakses tanggal 6 November 2014. Pengertian proposal bila dikaji dengan kajian praktis maka akan menghasilkan beberapa pendapat tentang pengertian proposal.
Rieefky dalam Ninis Sofi (2013), proposal adalah suatu bentuk rancangan  kegiatan yang dibuat dalam bentuk formal dan standar. Rieeke juga berpendapat bahwa penulisan proposal adalah suatu langkah penggabungan dari berbagai perencanaan yang telah dibuat dalam tahap-tahap sebelumnya. Proposal berarti suatu konsep pemikiran dalam bentuk tulisan tentang sesuatu proyek kegiatan yang akan dilaksanakan.
Keraf dalam Ninis Sofi (2013) mempunyai pendefinisian yang agak berbeda. Keraf mendefenisikan proposal adalah suatu saran atau permintaan kepada seseorang  atau suatu badan untuk mengerjakan atau melakukan suatu pekerjaan. Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan proposal adalah suatu rancangan kegiatan atau kerja yang disusun secara sistematis dan terperinci sesuai standar oleh seseorang atau sekelompok orang untuk diajukan kepada pihak yang dikehendaki dalam mendapatkan persetujuan bisnis.








Tema : Negosiasi  Bisnis

            Negosiasi memiliki pengertian yang beraneka ragam. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) oleh W.J.S Poorwadarminta, negosiasi berarti 1) perundingan 2) penutupan suatu perjanjian. Oxford Leaner’s Pocket Dictionary dalam Irsan (2013) menyatakan bahwa Negotiate (verb) “try to reach an agreement by formal discussion” artinya berupaya untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi yang formal. Negotiation (adverb) yang berarti menunjukkan suatu proses atau aktivitas untuk merundingkan, membicarakan untuk disepakati bersama orang lain. 

            Dalam dunia bisnis, negosiasi dapat diartikan sebagai suatu bentuk pertemuan bisnis antara dua pihak atau lebih untuk mencapai suatu kesepakatan bisnis.  Negosiasi merupakan perundingan antara dua pihak dimana didalamnya terdapat proses memberi, menerima, dan tawar menawar. Pendapat ini didukung oleh pemikiran Robbins dan Judge (2011:499) dalam Wibowo (2013:232) yang merumuskan negosiasi adalah suatu proses di mana dua pihak atau lebih bertukar barang dan jasa dan berusaha menyepakati tingkat pertukaran untuk barang dan jasa tersebut.
Pakar lain lebih melihat negosiasi dalam kaitan dengan konflik agar mendapatkan solusi yang tepat. McShane & Von Glinow (2010:342) dalam Wibowo (2013:232) menyatakan bahwa negosiasi sebagai proses dimana dua atau lebih pihak yang konflik berusaha menyelesaikan perbedaan tujuan dengan mendefenisikan kembali bentuk saling ketergantungan. Orang melakukan negosiasi apabila mereka berpikir bahwa diskusi dapat menghasilkan pengaturan yang lebih memuaskan dalam pertukaran barang dan jasa mereka.
             
              Hartman dalam buku karya Purwanto (2006) yang berjudul Komunikasi Bisnis, pengertian negosiasi dapat berbeda-beda tergantung dari sudut pandang siapa yang terlibat dalam bernegosiasi. Dalam hal ini, ada dua pihak yang berkepentingan dalam bernegosiasi, yaitu pembeli dan penjual. Hartman menegaskan bahwa negosiasi merupakan suatu proses komunikasi antara dua pihak, yang masing-masing mempunyai tujuan dan sudut pandang mereka sendiri, yang berusaha mencapai kesepakatan yang memuaskan kedua belah pihak mengenai masalah yang sama.
Tujuan Negosiasi
Thong dalam Purwanto (2006) menyatakan bahwa tujugan bernegosiasi adalah: untuk mendapatkan sebuah keuntungan atau menghindarkan kerugian atau memecahkan problem yang lain; mendapatkan atau mencapai kata sepakat yang mengandung kesamaan persepsi, saling pengertian dan persetujuan; mendapatkan atau mencapai kondisi penyelesaian atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi bersama; mendapatkan atau mencapai kondis saling menguntungkan: masing-masing pihak merasa menang (win-win solution).

Manfaat Negosiasi
Asep Sujana (2004) dalam Irsan (2013) mengatakan bahwa manfaat manfaat yang diperoleh dari sebuah proses negosiasi di dalam pengertian bisnis resmi antara lain adalah:
Untuk mendapatkan atau menciptakan jalinan kerja sama antar badan usaha atau institusi ataupun perorangan untuk melakukan suatu kegiatan atau usaha bersama atas dasar saling pengertian. Dengan terjalinnya kerjasama antar kedua belah pihak inilah maka tercipta sebuah transaksi bisnis yang saling terkait, sehingga membuat dinammis dan hidupnya perekonomian. Dengan kata lain, bahwa suatu proses negosiasi bisnis merupakan bagian dari suatu proses interaksi guna menghidupkan perekonomian dalam skala yang lebih luas.
Dalam sebuah perusahaan, sebuah proses negosiasi akan memberikan manfaat untuk menjalin hubungan bisnis yang lebih luas dan juga untuk mengembangkan pasar, yang diharapkan memberikan peningkatan penjualan. Proses negosiasi bisnis juga akan menghasilkan harga yang lebih baik dan efisien, yang memberikan keuntungan yang lebih besar. Dalam jangka panjang hal ini akan memberikan kemajuan sebuah perusahaan.

Persiapan Negosiasi
              Untuk mendapatkan suatu kesepakatan kedua belah pihak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam negosiasi bisnis antara lain (Purwanto, 2006: 251) : persiapan yang cermat; persentasi dan evaluasi yang jelas mengenai posisi kedua belah pihak; keterampilan, pengalaman, motivasi, pikiran yang terbuka; pendekatan yang logis untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan yang baik dan saling menguntungkan dan saling menghormati; kemauan untuk membuat konsensi untuk mencapai kesepakatan melalui kompromi bila terjadi kemacetan.
Hartman dalam Irsan (2013) menyatakan ada empat poin penting yang perlu diperhatikan sebelum bernegosiasi, antara lain pencarian fakta terutama dari pihak lain (lawan negosisasi), menaksir posisi lawan negosisasi, membuat perencanaan yang baik, dan memilih serta mengatur tim negosiasi. Sementara itu, menurut Casse, ada tiga tahapan penting dalam bernegosiasi, yaitu tahap perencanaan (sebelum negosiasi), tahap implementasi (selama negosiasi), dan tahap peninjauan (setelah negosiasi)kepentingan termasuk untuk mempengaruhi keadaan.
























Tema : Komunikasi Bisnis dan Kinerja Organisasi sebagai Sebuah Konsep

Komunikasi bisnis atau lebih dikenal dengan komunikasi organisasi dan kinerja organisasi memiliki konsep dan pengertian yang beragam tergantung persepsi dan pemahaman setiap pakar dalam menyorotinya. Untuk memudahkan pemahaman tentang hal tersebut maka dalam penulisan makalah ini perlu diberikan pembatasan pengertian dan konsep yang menjadi titik start pembahasan lebih lanjut.

Komunikasi Bisnis/Organisasi
Komunikasi adalah proses dengan mana informasi dan arti atau makna ditransfer dari sender kepada receiver (Colquitt, LePine, Wisson 2011 dalam Wibowo 2013). Kebanyakan pekerjaan yang dilakukan dalam organisasi bisnis saling bergantung dan menyangkut komunikasi diantara anggota. Oleh karena itu efektivitas komunikasi memainkan peranan penting dalam menentukan apakah terdapat keuntungan atau kerugian dalam proses komunikasi.
Rosenbatt et al., 2007 dalam www.anneahira.com yang diakses tanggal 27 November 2014 menyatakan bahwa komunikasi bisnis adalah pertukaran gagasan, pendapat, informasi instruksi yang memiliki tujuan tertentu yang disajikan secara personal dan impersonal melalui simbol-simbol untuk mencapai tujuan organisasi.
Pendapat ini senada dengan Purwanto (1997) yang menyatakan bahwa komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis mencakup berbagai macam bentuk baik komunikasi verbal maupun non verbal. Komunikasi verbal menggunakan kata baik lisan maupun tertulis sementara non verbal tidak menggunakan kata melainkan lambang, simbol, gerakan dan warna.
  Harrison & Dorfel (2006) dalam Widiastuti (tanpa tahun) mendefenisikan komunikasi bisnis/organisasi sebagi variabel kunci yang memungkinkan seseorang untuk membangun hubungan dalam satu organisasi serta berinteraksi dan berbagi informasi. Dengan kata lain, komunikasi yang efektif merupakan jalan bagi organisasi untuk saling memahami satu sama lain dan mengkoordinasikan kegiatan mereka agar mempertahankan hubungan yang lebih baik. Goldharber (2006) dalam Widiastuti (tanpa tahun) menulis bahwa komunikasi bisnis/organisasi merupakan proses saling menciptakan dan saling menukar pesan dalam satu jaringan hubungan saling bergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti dan selalu berubah-ubah.
Organisasi apa pun membutuhkan komunikasi agar organisasi bersangkutan bisa berjalan secara efektif. Efektivitas dalam berkomunikasi menentukan tingkat produktivtas dan keberhasilan organisasi apalagi organisasi bisnis yang juga mengutamakan profit atau laba. Manusia menentukan komunikasi agar organisasi itu dinamis dan produktif. Rosadi Roslan (2006) dalam Widiastuti (tanpa tahun) memberikan gambaran bahwa komunikasi dalam perusahaan dikatakan efektif apabila adanya keterbukaan manajemen perusahaan terhadap karyawannya, saling menghormati atau saling menghargai satu sama lain yaitu antara pimpinan dan bawahan demi tercapainya tujuan utama perusahaan, adanya kesadaran dan pengakuan dari pihak perusahaan akan arti pentingnya suatu komunikasi timbal balik dalam perusahaan dan adanya media komunikasi yang baik dalam perusahaan.

Peran atau Fungsi Komunikasi Bisnis yang Efektif
Ada banyak pakar yang memberikan pendapat tentang peran atau fungsi komunikasi bisnis agar perusahaannya mendapatkan profit dan semakin lebih produktif. Namun dalam penulisan ini, penulis mengutif pendapat Chester Bardner dalam www.aneahira.com yang diakses tanggal 27 November 2014. Bardner merumuskan empat (4) fungsi atau peran komunikasi bisnis yang efektif yakni pertama, komunikasi bisnis berperan sebagai pemberi informasi. Komunikasi yang memberikan informasi tentang bisnis misalnya produk, pelayanan dan harga dari perusahaan kepada masyarakat yang akan menggunakan jasa atau pun produk. Informasi yang diberikan hendaknya tidak manipulatif, mengatakan apa adanya sesui objek yang benar-benar terjadi. 
Kedua, komunikasi bisnis  berfungsi persuasif. Komunikasi yang diberikan untuk menyakinkan masyarakat atau pelanggan agar mengubah sikap, pendapat dan perilakunya seperti yang diinginkan pebisnis. Mengundang investor bisa menanamkan sahamnya; konsumen menjadi loyal terhadap produk dan layanan.
Ketiga, komunikasi bisnis berperan sebagai kontrol. Komunikasi yang dilakukan lebih bersifat internal yang memberikan informasi tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.  Keempat, komunikasi bisnis berperan sebagai emotif. Isi pesan yang disampaikan adalah sentuhan kebutuhan dan harapan konsumen atau pelanggan.


Faktor Penghambat Komunikasi Bisnis yang Efektif
Komunikasi bisnis yang efektif memiliki tujuan dan peran yang sangat mulia bagi peningkatan performance dan profitabilitas perusahaan. Oleh karena itu, setiap perusahaan akan berusaha sedemikian agar mempertahankan atau pun meningkatkan komunikasi yang efektif di dalam perusahaannya. Walau pun demikian, tentu ada-ada saja faktor yang menghambatnya. Gibson & Donelly (1993) dalam Widiastuti (tanpa tahun) menemukan dalam penelitian bahwa ada sembilan (9) faktor yang menjadi faktor penghambat komunikasi bisnis yakni:
Pertama, kerangka acuan. Setiap orang mempunyai latar belakang pengatahuan yang berbeda-beda maka dalam memahami proses komunikasi pun sangat bervariasi dan tentu akan menghambat komunikasi yang efektif. Kedua, bahasa. Perbedaan bahasa berhubungan dengan adanya perbedaan persepsi lantaran seseorang akan membuat persepsi sendiri dari bahasa yang berbeda dan mungkin kurang dipahami.
Ketiga, menyimak selektif. Bentuk persepsi yang selektif, penerima pesan cenderung menghambat informasi baru terutama informasi baru (produk dan layanan) tersebut bertentangan dengan apa yang telah diyakininya. Keempat, masalah sematik. Komunikasi terhambat karena unngkapan abstrak dan dipahami secara berbeda dari pesan yang sama. Kelima, kredibilitas sumber.  Status atau jabatan kadang membuat orang mempertanyakan kredibilitas pesan yang disampaikan. Informasi yang disampaikan benar namun disampaikan oleh jabatan yang lebih dibawah maka akan mengganggu kepercayaan masyarakat atau sesame karyawan terhadap informasi yang disampaikan. Atasan selalu lebih kredibel.
Keenam, adanya perbedaan status. Perbedaan komunikasi dalam hirarki juga bisa menghambat informasi yang disampaikan. Orang terlanjur lebih percaya yang memiliki hirarki yang lebih tinggi ketimbang yang sederajat apalagi yang status sosial atau jabatan yang lebih rendah. Ketujuh, tekanan waktu. Waktu yang semakin pendek membuat komunikasi sangat tergesa-gesa sehingga pesan inti yang disampaikan bisa saja terlewatkan. Kedelapan, beban layak komunikasi. Beban informasi yang diterima terlalu banyak apalagi masalah berat suatu perusahaan maka orang akan sulit memberikan informasi yang efektif. Kesembilan, penyaringan. Dalam perusahaan, kadang bawahan menyaring informasi yang kurang menyenangkan untuk disampaikan kepada atasan sehingga informasi yang diberikan tidak lagi apa adanya.

Tema : Perencanaan Pesan Bisnis

PROSES PENYUSUNAN PESAN BISNIS
Dalam organisasi bisnis, berbagi kegiatan komunikasi terjadi setiap hari, baik lisan maupun tertulis. Mulai dari kegiatan komunikasi yang sangat sederhana samapai pada kegiatan komunikasi yang rumit dan kompleks. Misalnya, membuat memo, merevisi draft surat, mengetik e-mail, membuat laporan, menyiapkan surat tanggapan atas keluhan pelanggan, membuat surat perjanjian, dan lain-lain. Semua kegiatan komunikasi itu saling bersaing untuk memperoleh perhatian penerima. Oleh karena itu, pesan bisnis diuapayakan selalu lebih menarik dibandingkan yang lain atau lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Menyusun pesan bisnis yang menarik perhatian, mudah dibaca, dan mudah dipahami memerlukan kreativitas. Namun demikian, tujuan penyusunan pesan bisnis bukanlah agar penerima terpesona akan pengetahuan dan kreativitas pengirim. Pesan bisnis yang dibuat hendaknya tetap berpusat pada penerima dan memiliki tujuan yang jelas.
Agar pesan bisnis efektif, diperlukan pemahaman terhadap proses penyusunan pesan bisnis. Proses penyusunan pesan bisnis bersifat fleksibel. Tidak ada proses penyusunan pesan bisnis yang terbaik. Walaupunn demikian, sejumlah langkah umum dalam penyusunan pesan bisnis yang efektif perlu diperhatikan. Proses penyusunan pesan bisnis umumnya terdiri atas 3 (tiga) tahap sederhana, yaitu:
a.       Perencanaan pesan
Dalam tahap ini, ditentukan hal-hal yang mendasar dari suatu pesan yang akan dikomunikasikan. Seara rinci, tahap perencanaan tersebut meliputi:
·         Penentuan tujuan
·         Analisis audiens
·         Penentuan ide pokok
·          Pemilihan saluran dan media
b.      Penyusunan pesan
Setelah tahap perencanaan, selanjutnya ide/gagasan dituangkan dalam pesan tertulis. Pengorganisasian dan penyusunan dokumen dimulai dari penyusunan kata-kata, kalimat, paragraf, serta memilih ilustrasi yang akan digunakan untuk mendukung ide/gagasan
Tahap ini meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu:
·         Mengotganisasikan pesan
·         Memformulasikan pesan
c.       Revisi pesan
Pesan yang telah disusun dikaji ulang untuk memastikan apakah ide/gagasan yang diungkapkan sudah memadai. Pemeriksaan lebih detail juga dilakukan atas format penulisan, tanda baca, dan tata bahasa.
Berbagai kegiatan pada tahap revisi pesan adalah:
·         Menyunting pesan
·         Menulis ulang
·         Memproduksi pesan
·         Mencetak pesan
Perkiraan pembagian waktu yang dialokasikan pada masing-masing tahap proses penyusunan pesan bisnis adalah merencanakan pesan 40% menyusun draft dasar 20% dan merevisi 40% dari waktu total (Vik & Gilsdorf dalam Haryani, 2001:87).


PENENTUAN TUJUAN PESAN BISNIS
Pesan bisnis dapat menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Pesan-pesan yang di sampaikan kepada pihak lain hendaknya mampu menjaga dan meningkatkan citra perusahaan. Untuk dapat menciptakan goodwill, setiap pesan bisnis hendaknya memiliki tujuan yang jelas, dapat diukur, dan tidak bertentangan dengan tujuan organisasi.
Ada tiga tujuan umum komunikasi, yaitu (1) memberi informasi (informming); (2) membujuk atau persuasi (persuading); dan (3) melakukan kerjasama atau kolaborasi (collaborating). Masing-masing tujuan tersebut akan menentukan tingkat partisipasi penerima dan tingkat pengendalian pengirim.
Jika hanya bertujuan memberikan informasi, akan diperlukan sedikit saja partisipasi komunikan, dan kendali pesan sepenuhnya berada pada komunikator. Pesan yang bersifat persuasi akan memerlukan partisipasi komunikan dan interaksi yang lebih tinggi, serta pengendalian pesan yang tidak sepenuhnya berada pada komunikator. Sementara jika pesan bisnis bertujuan menjalin kerja sama, akan diperlakukan partisipasi maksimum dan komunikan dan kendali komunikator terhadap isi pesan yang lebih rendah.
Pesan yang dibuat tidak akan ada gunanya apabila gagal mencapai tujuan. Oleh karena itu, tujuan pesan bisnis hendaknya realistis dan tidak bertentangan dengan tujuan perusahaan (organisasi).

ANALISIS AUDIENS/PENERIMA PESAN
Setelah tujuan bisa ditetapkan dengan baik, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis audiens. Sasaran atau target utama dari setiap komunikasi adalah penerima atau audiens. Oleh karena itu, analisis terhadap audiens sangat perlu dilakukan. Audiens dalam studi komunikasi bisa individu ataupun organisasi. Audiens biasanya memiliki pemahaman yang berbeda beda atas pesan yang mereka terima.
a.       Mengembangkan Profil Audiens
Analisis terhadap audiens yang sudah dikenal biasanya relative lebih mudah dilakukan tanpa harus melalui penelitian yang rumit. Demikian juga, reaksi atas pesan yang dikirim kepada orang yang sudah dikenal yang pada umumnya dapat diperkirakan. Contoh audiens yang sudah dikenal atasan, rekan sekerja, pelanggan lama, dan pemasok lama.
b.      Mengenali Penerima Primer
Apabila penerima terdiri dari beberapa orang, perlu dikenali orang-orang terpenting yang berpengaruh atau bertindak sebagai pengambil keputusan. Biasanya, orang yang berkedudukan tinggi bertindak sebagai pengambil keputusan. Namun, adakalanya justru orang yang berkedudukan rendah yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan tertentu.
c.       Menetapkan Jumlah dan Komposisi Audiens
Jumlah penerima juga mempengaruhi pesan bisnis. Menulis pesan bisnis yang ditujukan hanya kepada satu orang akan berbeda dengan pesan yang ditujukan kepada banyak orang. Gaya penulisan, format, dan bahasa pesan bisnis yang ditujukan kepada orang banyak cenderung lebih formal.
d.      Mengukur Tingkat Pemahaman Audiens
Apabila penerima memiliki latar belakang yang sama dengam pengirim, maka pada umumnya mereka dianggap memiliki pemahaman yang sama terhadap suatu pesan. Dalam keadan demikian, pengirim tidak perlu melakukan usaha – usaha tertentu untuk memberikan pemahaman kepada penerima. Namun apabila penerima memiliki latar belakang yang berbeda, maka pengirim memiliki latar belakang yang berbeda, maka pengirim harus siap untuk memberikan penjelasan-penjelasan tanpa rasa bosan agar tidak terjadi kekeliruan interpretasi.
e.       Mengukur Reaksi Penerima
Cara mengorganisasikan pesan sangat tergantung pada reaksi yang diperkirakan akan dilakukan oleh penerima. Untuk menghindari kritik dan perdebatan, pesan bisnis sebaiknya dilengkapi dengan argumentasi yang didukung degnan bukti-bukti yang cukup dan penjelasan yang memadai, serta diakhiri dengan simpulan dan rekomendasi.
f.       Memenuhi Kebutuhan Informasi Audiens
Pesan yang baik akan mampu memenuhi semua pertanyaan penerima. Memenuhi kebutuhan informasi penerima merupakan salah satu kunci sukses pesan bisnis. Ada lima pedoman yang perlu diperhatikan agar pesan bisnis mampu memenuhi kebutuhan imformasi audiens, yaitu :
1.      Temukan apa yang ingin diketahui audiens.
Tidak semua audiens pandai mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya. Cobalah menggali keinginan audiens dengan melakukan pertanyaan ulang yang lebih spesifik untuk menghindari keragu-raguan.
2.      Antisipasi pertanyaan yang tidak diungkapkan.
Informasi tambahan yang relevan perlu diberikan untuk mengantisipasi kebutuhan informasi yang tidak disadari oleh audiens. Hal itu akan menimbulkan kesan baik karena audiens memperoleh informasi yang lebih luas dari harapannya.
3.      Berikan semua informasi yang diperlukan oleh audiens
Ujilah kelengkapan pesan yang dikirim dengan berpedoman pada 5W + 1H (Who, What, Why, When, Where, dan How).
4.      Pastikan bahwa Informasi yang diberikan akurat.
Dalam bisnis, ketetapan informasi harus dipastikan terlebih dahulu sebelum membuat komitmen tertulis. Kaji ulang tanggal, jadwal, asumsi, oerhitungan matematika, atau keuangan untuk memastikan keabsahannya.

5.      Tekankan gagasan yang paling menarik bagi audiens.
Di antara beberapa gagasan yang disampaikan, lakukan penekanan pada gagasan yang paling menarik perhatian audiens.
g.      Memuaskan Kebutuhan Emosional dan Praktis Audiens
Pesan yang bertujuan membujuk dan bekerja sama seringkali gagal mengubah keyakinan atau perilaku audiens. Kegagalan itu bisa desebabkan oleh pesan yang menyajikan informasi yang tidak diperlukan, alasan yang dikemukakan tidak rasional, dan terlalu panjang atau tidak menarik untuk dibaca.

Hal yang harus diingat bahwa pesan bisnis disampaikan kepada audiens yang juga melakukan kegiatan bisnis dan memiliki pemahaman terhadap masalah bisnis. Mereka pada umumnya sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk membaca pesan. Di samping itu, audiens pada umumnya enggan melakukan perubahan.
            Untuk mencapai tujuan komunikasi, diupayakan agar pesan bisnis menggunakan pendekatan emosional audiens, terstruktur, rasional, serta disusun dengan format yang menarik.