MASALAH YANG DIHADAPI ETIKA BISNIS
Di depan sudah
dikatakan bahwa bisnis tetap mengenal etika, dari semua keterangan diatas
kitajuga perlu mengetahui masalah-masalah yang dihadapi etika bisnis. Dari sini
kita perlu mengetahui hubungan-hubungan dalam etika bisnis.
a Hubungan
Primer
Meliputi semua
hubungan langsung yang diperlukan suatu perusahaan untuk melaksanakan fungsi
dan misinya yang utama, yaitu memproduksi barang dan jasa dalam masyarakat.
b. Hubungan
Sekunder
Meliputi
berbagai hubungan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang merupakan
akibat dari
pelaksanaan fungsi dan misi utama perusahaan. Pada tingkat pertama kita tahu
bahwa etika menyangkut sikap dan pola hidup yang bersumber dari nilai-nilai
yang dianut seseorang di dalam seluruh hidupnya. Nilai-nilai ini melahirkan
standar moral tertentu yang mempengaruhi sikap-sikap dan tingkah laku setiap
orang. Masalah yang dihadapi adalah bahwa standar moral
para pelaku
bisnis masih sangat lemah. Banyak diantaranya (pelaku bisnis) yang terjun di
dunia bisnis hanya dengan motivasi dasar untuk mencari keuntungan dan memperoleh
tingkat hidup yang mencukupi material dan tidak memperhitungkan segi etika bisnis.
Pada tingkat
perusahaan sering terjadi konflik kepentingan. Mereka menghadapi suatu konflik
yang sulit antara nilai pribadi dengan tujuan yang ingin dicapai perusahaan.
Bahkan mereka menghadapi konflik antara perusahaan dan masyarakat dan antara
pihak-pihak yang terlibat dalam suatu urusan bisnis. Kenyataan ini diperburuk
lagi oleh tidak atau belum adanya organisasi profesi bisnis yang berfungsi
menegakkan kode etik bisnis. Pada tingkat masyarakat, kenyataan menunjukkan
bahwa masyarakat sedang mengalami transisi, yaitu dari masyarakat berkembang
menuju masyarakat maju. Dalam situasi demikian terjadilah transformasi dan
perubahan besar-besaran dalam segala bidang kehidupan. Yang ditakutkan adalah
kekhawatiran tercabutnya aturan-aturan budaya luhur kita, dan kita belum ada
nilai baru yang kita pegang.
Bersamaan dengan
itu situasi ekonomi dan politik belum stabil. Kita masih merabaraba
mencari format
kebijakan ekonomi dan politik yang sangat tepat. Serta ikut terlibatnya
birokrasi dalam dunia bisnis yang menimbulkan persoalanpersoalan pelik yang
sulit diatasi, akibatnya keadilan sosial menjadi semakin sulit terjangkau. Secara
spesifik oleh karena etika bisnis merupakan penerapan tanggung jawab social suatu
bisnis yang timbul dari dalam perusahaan itu sendiri. Bisnis selalu berhubungan
dengan masalah-masalah etis dalam melakukan kegiatannya seharihari. Hal ini
dapat dipandang sebagai etika pergaulan bisnis. Seperti hal manusia pribadi
juga memiliki etika pergaulan antar manusia, maka pergaulan bisnis dengan
masyarakat umum juga mempunyai atau memiliki etika pergaulan yaitu etika
pergaulan bisnis.
Etika pergaulan
bisnis dapat meliputi beberapa hal antara lain adalah:
1. Hubungan
antara bisnis dengan pelanggan / konsumen.
Hubungan antara
bisnis dengan pelanggannya merupakan hubungan yang paling banyak dilakukan,
oleh karena itu bisnis haruslah menjaga etika pergaulannya secara baik dalam
hal ini. Adapun pergaulannya dengan pelanggan ini dapat disebutkan di sini,
misalnya sebagai berikut.
a) Kemasan
yang berbeda-beda membuat konsumen sulit untuk membedakan atau mengadakan
perbandingan harga terhadap produknya.
b) Bungkus
ataupun kemasan membuat konsumen tidak dapat mengetahui isi di dalamnya,
sehingga produsen perlu memberikan kejelasan tentang isi serta kandungan atau
zat-zat yang terdapat di dalam produk itu.
c) Promosi
terutama iklan merupakan gangguan etis yang paling utama. Oleh karena itulah
maka sampai saat inipun TVRI masih melarang ditayangkannya iklan dalam
siarannya sejak awal 1980-an.
d) Pemberian
servis dan terutama garansi adalah merupakan tindakan yang sangat etis bagi
suatu bisnis. Sangatlah tidak etis suatu bisnis yang menjual produknya yang
ternyata jelek (busuk) atau tak layak dipakai tetap saja tidak mau mengganti
produknya tersebut kepada pembelinya.
2. Hubungan
dengan karyawan
Manajer yang
pada umumnya selalu berpandangan untuk memajukan bisnisnya seringkali harus
berurusan dengan etika pergaulan dengan karyawannya. Pergaulan bisnis dengan
karyawan ini meliputi beberapa hal yaitu: Penarikan (recruitment), Latihan
(training), Promosi atau kenaikan pangkat, transfer, demosi (penurunan pangkat)
maupun lay-off atau pemecatan/PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Di dalam menarik
tenaga kerja haruslah dijaga adanya penerimaan yang jujur sesuai dengan hasil
seleksi yang telah dijalankan. Seringkali terjadi hasil seleksi tidak
diperhatikan akan tetapi yang diterima adalah peserta atau calon yang berasal
dari anggota keluarga sendiri. Di samping itu tidak jarang seorang manajer yang
mencoba menaikkan pangkat
para karyawan
dari generasi muda yang dianggapnya sangat potensial dalam rangka membawa
organisasi menjadi lebih dinamis, tetapi hal tersebut mendapat protes keras
dari karyawan golongan generasi tua. Masalah lain lagi dan yang paling rawan
adalah masalah pengeluaran karyawan atau drop-out (DO). Masalah DO atau PHK ini
perlu mendapatkan perhatian ekstra dari para manajer karena hal ini menyangkut
masalah tidak saja etik akan tetapi juga masalah kemanusiaan. Karyawan yang di
PHK tentu saja akan kehilangan mata pencahariannya yang menjadi tumpuan hidup
dia bersama keluarganya.
3. Hubungan
antar bisnis
Hubungan ini
merupakan hubungan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain. Hal
ini bisa terjadi hubungan antara perusahaan dengan pesaingnya, dengan
penyalurnya, dengan grosirnya, dengan pngecernya, agen tunggalnya maupun
distributornya. Dalam kegiatan seharihari tentang hubungan tersebut sering
terjadi benturan-benturan kepentingan
antar keduanya. Dalam hubungan itu tak jarang dituntut adanya
etika pergaulan bisnis yang baik.
4. Hubungan
dengan investor
Perusahaan yang
berbentuk perseroan terbatas dan terutama yang akan atau telah “go public”
haruslah menjaga pemberian informasi yang baik dan jujur dari bisnisnya kepada
para investor atau calon investornya. Informasi yang tidak jujur akan
menjerumuskan untuk mengambil keputusan yang keliru. Dalam hal ini perlu
mendapat perhatian yang serius karena dewasa ini di Indonesia sedang mengalami
lonjakan kegiatan pasar modal. Banyak permintaan dari para pengusaha yang ingin
menjadi emiten yang akan menjual sahamnya (mengemisi sahamnya) kepada
masyarakat. Di pihak lain masyarakat juga sangat berkeinginan untuk menanamkan
uangnya dalam bentuk pembelian saham ataupun surat-surat berharga yang lain
yang diemisi oleh perusahaan di pasar modal. Oleh karena itu masyarakat calon
pemodal yang ingin membeli
saham haruslah
diberikan informasi secara lengkap dan benar mengenai prospek perusahaan yang
go public tersebut. Janganlah sampai terjadi adanya manipulasi atau penipuan
terhadap informsi atas hal ini.
5. Hubungan
dengan lembaga-lembaga keuangan
Hubungan dengan
lembaga keuangan terutama Jawatan Pajak pada umumnya hubungan pergaulan yang
bersifat finansial. Hubungan ini merupakan hubungan yang berkaitan dengan
penyusunan laporan keuangan yang berupa neraca dan laporan rugi laba misalnya.
Laporan finansial disusun secara benar sehingga tidak terjadi kecenderungan ke
arah penggelapan pajak. Keadaan tersebut merupakan etika bisnis yang tidak
baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar